Sampai Jumpa Lagi Kawan
Hari-hari dilalui dengan menyenangkan bersama sahabat dekat. Suka dan duka dijalani bersama. Nadira dan Chika adalah dua sahabat yang sangat dekat. Nadira dan Chika adalah remaja berusia 17 tahun. Nadira mempunyai sifat lemah lembut, penyayang, dan baik hati. Chika juga baik hati dan kadang agak jail. Mereka berdua bersahabat sejak duduk di SMP hingga saat ini mereka sudah lulus dari SMA.
Keduanya akan melanjutkan ke perguruan tinggi, yakni di Universitas Bina Bangsa. Sebuah perguruan tinggi favorit di Jakarta Selatan. Nadira mengambil fakultas ekonomi, sedangkan Chika mengambil fakultas hukum. Di sinilah persahabatan mereka diuji.
Rumah Nadira dan Chika berdekatan, dan lebih tepatnya mereka adalah tetangga. Sering sekali mereka berangkat ke sekolah bersama, tetapi semenjak kuliah mereka sudah jarang bersama. Saat akan berangkat kuliah, Nadira menyapa Chika yang sedang bersiap-siap juga berangkat ke kampus.
“Chikaa, ayo ke kampus bareng!” Ajak Nadira.
“Wah maaf nih Dir, aku udah janjian sama temen kampusku si Leora.” Ucap Chika sembari terburu-buru memakai sepatu.
Tiba-tiba mobil warna putih tiba di depan rumah Chika, dan ternyata itu adalah Leora yang datang. Lalu Chika bergegas pergi menghampiri Leora tanpa mengucapkan salam pada Nadira. Nadira pun merasa sedih, baru kali ini Chika bersikap seperti tidak peduli padanya. Nadira pun bergegas ke kampus dengan mengendarai motor scoopy abu-abunya itu.
Sesampainya di kampus, Nadira disapa oleh teman-teman barunya salah satunya bernama Dania. Dania ini orangnya sedikit galak, tapi aslinya baik. Dania adalah teman satu kelas Nadira.
Di sisi lain ada Chika, ia sekarang lebih sering bersama Leora. Entah di kampus maupun saat di luar kampus. Bahkan Chika jarang sekali bersama Nadira. Nadira berusaha agar Chika tidak berubah dan tetap bersamanya meskipun sekarang berbeda fakultas dan masing-masing dari mereka sudah ada teman baru.
Nadira sering sekali menceritakan Chika kepada Dania, bahkan ia juga ingin memperkenalkan Chika kepada Dania. Siang itu Nadira mengajak Dania ke rumahnya, dan bertemu dengan Chika saat ia pulang dari kampus.
“Chikaaaa, sini mampir! Di sini juga ada Dania temanku mari aku kenalkan kalian.” Ucap Nadira.
“Aduh aku capek banget, lain kali aja ya.” Ucap Chika sambil masuk ke rumahnya.
Seketika Nadira pun sedih dan kaget, kenapa sikap sahabat dekatnya sekarang seperti itu.
Kemudian Dania menenangkan Nadira yang terlihat sedih.
“Udah gapapa Dir, mungkin Chika emang lagi capek jadi gamau mampir sini.” Ucap Dania menenangkan Nadira.
Kemudian di malam hari, Nadira mencoba mendatangi rumah Chika. Chika pun dan Nadira berbincang bersama.
“Maaf ya chik aku malem-malem ganggu kamu, jadi aku ke sini mau bicara sesuatu sama kamu.” ucap Nadira.
“Iya udah ngomong aja lah jangan basa basi gitu.” Ucap Chika dengan kesal.
“Kamu kenapa sekarang berubah ke aku sih Chik? Emang aku ada salah ya? kok semenjak kuliah kita jarang banget main bareng?” tanya Nadira kepada Chika.
Chika dengan lantang menjawab “Hah berubah? Enggak kalik siapa yang berubah coba. Jujur ya Dir, aku tu bosen temenan sama kamu. Apalagi sekarang aku udah ada temen-temen baru di kampus. Emang aku salah?” Ucap Chika tanpa merasa bersalah.
Seketika mata Nadira pun mulai berkaca-kaca, dan berkata “Oh jadi kamu bosen ya temenan sama aku. Okay padahal aku ngga pernah bosen temenan sama kamu, bahkan aku udah menganggap kamu kayak saudara aku Chik. Tapi itu hak kamu kok kalau kamu bosen.” Ucap Nadira sambil menangis dan hatinya sangat sakit mendengar perkataan Chika. Nadira pun pamit pulang, Chika pun hanya mengangguk.
Sejak saat itu, Nadira dan Chika tidak pernah bersama lagi. Mereka sekarang sudah punya kehidupan masing-masing. Nadira dikabarkan akan pindah ke Yogyakarta karena Ayahnya dipindah tugaskan di sana. Mau tidak mau Nadira harus ikut ke sana. Ia juga akan pindah ke perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta. Nadira juga berpamitan dengan teman-temanya, termasuk Chika, namun saat Nadira ke rumah Chika, Chika sedang tidak ada di rumah.
Sudah satu bulan sejak Nadira pindah, Chika mulai merasakan kepergian Nadira. Saat bersama Leora, ia semakin memahami sifat asli Leora yang ternyata pemarah dan kekanak-kanakan. Chika pun kesal dengan sikap Leora. Saat Chika sedih dan sedang ada masalah, Leora tidak pernah ada untuknya. Berbeda saat ia bersama Nadira, Nadira selalu ada untuknya di saat sedih maupun senang. Saat itulah Chika menyadari bahwa sahabat sejatinya adalah Nadira. Nadira yang selama ini Ia sia-siakan saat Ia mendapat teman baru. Sahabat yang sekarang sudah jauh darinya.
Chika menyesal dan menangis, Ia merindukan sahabatnya. Sejak malam saat Chika dan Nadira berbicara, ternyata itulah saat terakhir Ia berbicara dan bertemu dengan Nadira. Nadira pun juga sulit untuk dihubungi, Chika pun hanya menyesali semua yang sudah terjadi. Ia sangat menyesal berkata kasar kepada Nadira saat itu, betapa sakit hatinya saat itu dan betapa hancurnya Nadira pada saat itu.
“Nadira, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal. Bisakah kita bertemu lagi? Aku sangat merindukanmu, sahabatku….” Ucap Chika dari dalam lubuk hatinya.
No comments:
Post a Comment